Blog tentang Pendidikan, Guru, Pembelajaran, dan Sekolah

Friday, January 25, 2019

Pendidikan Dalam Perspektif Alquran


Pendidikan Dalam Perspektif Alqur'an
Tafsir Q.S. Al-Alaq ayat 1-5

Makalah ini akan membahas salah satu dari sekian banyak ayat dalam al-Qur’an yang mengandung muatan pendidikan, yakni Q.S al-‘Alaq[1] ayat 1-5.  Surah al-‘Alaq adalah surah ke-96 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 19 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Ayat 1 sampai dengan 5 dari surah ini adalah ayat-ayat al-Quran yang pertama diturunkan, yaitu di waktu Nabi Muhammad bersemedi di gua Hira. Adapun bunyi Q.S al-‘Alaq ayat 1-5 adalah
  
1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

-          Sebab Turun
Abudin Nata menjelaskan bahwa asbabun nuzul Q.S al-’Alaq 1-5 adalah adanya problema aktual yang dihadapi ummat yang menjadi sebab umat tersebut jatuh kedalam lubang jahiliyah, yaitu :
1.   Karena mereka menyekutukan Tuhan (syirik); 
2.    Karena mereka tidak mengetahui tentag siapa dirinya dan apa tugas yang harus dilakukan;
3.    Karena mereka membiarkan dirinya berada dalam kebodohan
(Keterangan Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim )

-          Tafsir
Ayat pertama : اقرأ – قرأ – يقرأ berarti menghimpun. Dengan demikian seseorang tidak dapat dikatakan membaca, kecuali jika dia menghimpun kata demi kata dan mengucapkannya. Berdasarkan pengertian tersebut Quraish Shihab  lebih cenderung mengembalikan arti kata tersebut kepada hakikat kata menghimpun, yaitu menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-cirinya dan sebagainya. Allah menyuruh Nabi Muhammad Saw membaca teks, sementara teksnya tidak ada. Dengan begitu dapat dipahami bahwa pengertian membaca di sini tidak dalam pengertian sempit, yakni membaca teks, tetapi mencakup pengertian luas yaitu menghimpun berbagai informasi melalui penelitian, penalaran. Semua itu merupakan sarana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
بسم ربك Mengaitkan pekerjaan membaca dengan nama Allah mengantarkan pelakunya untuk tidak melakukannya kecuali karena Allah, dan hal ini akan menghasilkan keabadian, karena hanya Allah yang kekal abadi dan hanya aktifitas yang dilakukan secara ikhlas yang akan diterimanya, tanpa keikhlasan semua aktifitas akan berakhir dengan kegagalan dan kepunahan.
Ayat Kedua : إنسان – بشر (Insan mengacu pada manusia dengan segala keragaman sifatnya, sedangkan basyar lebih mengacu pada fisik manusia).
Manusia adalah makhluk pertama yang disebut Allah dalam al-Qur’an melalui wahyu pertama, bukan saja karena ia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, atau segala sesuatu dalam alam raya ini diciptakan dan ditundukkan Allah demi kepentingannya, tetapi juga karena kitab suci al-Qur’an ditujukan kepada manusia guna menjadi pelita kehidupannya, salah satu caranya dengan menguraikan proses kejadian manusia.
Ayat Ketiga : Pengulangan lafal إقرأ. Disini kita dapat melihat perbedaan antara perintah membaca pada ayat pertama dan ke tiga, yakni yang pertama menjelaskan syarat yang harus dipenuhi seseorang ketika membaca (dalam segala pengertian), yaitu membaca demi karena Allah, sedang perintah yang ke dua menggambarkan manfaat yang diperoleh dari bacaan bahkan pengulangan bacaan tersebut.  Penyifatan kata Robb dan Karim menunjukkan bahwa kata karom atau anugerah kemurahannya dalam berbagai aspek, dikaitkan dengan rububiyahnya, yakni Pendidikan, Pemelihara dan Perbaikan makhluknya, sehingga anugrah tersebut dalam kadar dan waktunya selalu bebarengan serta bertujuan perbaikan dan pemeliharaan. رب – ربوبية – تربية
Dalam Q.S al-‘Alaq ayat ketiga Allah menjanjikan bahwa pada saat seseorang membaca dengan ikhlas karena Allah maka Allah akan menganugrahkan kepadanya ilmu pengetahuan, pemahaman, wawasan baru walaupun yang dibacanya sama.
Ayat Keempat dan Kelima : Kata qolam pada Q.S al-‘Alaq ayat  keempat dapat berarti hasil dari penggunaan qalam tersebut, yakni tulisan. Penafsiran ini muncul karena bahasa, sering kali menggunakan kata yang berarti alat atau penyebab untuk menunjuk akibat atau hasil dari penyebab atau penggunaan alat tersebut, misalnya, jika seseorang berkata “saya hawatir hujan” maka yang dimaksud dengan kata “hujan” adalah basah atau sakit.
            Disebutkan dalam sekian banyak riwayat bahwa awal surat al-Qolam turun setelah akhir ayat ke lima surat al-‘Alaq. Ini berarti dari segi masa turunnya kedua kata qolam tersebut berkaitan erat, bahkan bersambung walaupun urutan penulisannya dalam mushaf tidak demikian.

SIMPULAN
Al-Qur’an menekankan tentang pentingnya pendidikan bagi manusia. al-Qur’an juga menekankan akan pentingnya membaca, menelaah, meneliti segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini. Membaca, menelaah, meneliti hanya bisa dilakukan oleh manusia, karena hanya manusia makhluk yang memiliki akal dan hati. Selanjutnya dengan kelebihan akal dan hati, manusia mampu memahami fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya, termasuk pengetahuan.
Selain membaca dalam arti belajar, manusia juga diperintahkan untuk mengajar, sebagaimana makna yang terkandung dalam kata اقرأ yang diulang hingga sebanyak dua kali. Melalui Q.S al-‘Alaq ayat 1-5 ini, al-Qur’an juga mengajarkan tentang metode pembelajaran dengan  membaca, pembiasaan dan pengulangan.
Q.S al-‘Alaq ayat 1-5 juga telah menjelaskan hakikat dan tujuan pendidikan, yakni upaya membina jasmani dan rohani manusia dengan segenap potensi yang ada pada keduanya secara seimbang sehingga dapat melahirkan manusia yang seutuhnya.


[1] Al-‘Alaq ( العلق )dalam bahasa Arab berarti segumpal darah), diambil dari perkataan Alaq yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Surat ini dinamai juga dengan Iqra atau Al Qalam

No comments:

Post a Comment