Blog tentang Pendidikan, Guru, Pembelajaran, dan Sekolah

Friday, February 8, 2019

PENELITIAN TINDAKAN DALAM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN


I.         PENDAHULUAN
.Dunia pendidikan merupakan sebuah bidang sosial yang sangat dinamis. Perubahan-perubahan dalam bidang pendidikan dapat terjadi dalam tempo yang singkat. Demikian juga permasalahan yang muncul di dalamnya bisa sangat beragam. Dibutuhkan penanganan dan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.
Saat ini guru dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif dalam mengatasi problem yang muncul dalam bidang garapannya, yakni dunia pendidikan dan pembelajaran. Seorang guru profesional tidak boleh hanya puas terhadap hasil kualitas pembelajaran di kelas yang diampunya. Guru hendaknya selalu berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran dengan berusaha mengatasi problematika pembelajaran yang muncul.
Belakangan ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) banyak diterapkan dan ditekankan agar dilaksanakan oleh guru. PTK dianggap sebagai ‘obat mujarab’ untuk mengatasi masalah-masalah pembelajaran yang terjadi. PTK diharapkan dapat menjadi sarana dan upaya guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. PTK sendiri merupakan penelitian adopsi dari konsep awal, yakni penelitian tindakan (actions research). Awal mulanya, penelitian tindakan ditujukan untuk mencari solusi terhadap masalah sosial (pengangguran, kenakalan remaja, dan lain-lain) yang berkembang di masyarakat pada saat itu. Penelitian tindakan dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap masalah tersebut secara sistematis. Hal kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaan rencana yang telah disusun, kemudian dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang dipakai sebagai masukan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan. Hasil dari proses refeksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan peryempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai suatu kualitas keberhasilan tertentu dapat tercapai. Secara lebih luas, penelitian tindakan akan dibahasa dalam makalah berikut.


II.      PEMBAHASAN
A.    Sejarah dan Pengertian Penelitian Tindakan
Pada awalnya, penelitian tindakan (action research) dikembangkan dengan tujuan untuk mencari penyelesaian terhadap problema sosial (termasuk pendidikan). Istilah penelitian tindakan berasal dari karya Kurt Lewin mengenai dinamika sosial di Amerika pada tahun 1946.[1] Dia bermaksud mencari kaidah-kaidah umum dalam kehidupan kelompok melalui pengamatan dan refleksi yang cermat terhadap proses-proses perubahan sosial di masyarakat. Dua hal penting dalam karyanya adalah gagasan mengenai keputusan kelompok dan komitmen untuk melakukan perbaikan. Menurut Lewin, ciri yang menonjol dari penelitian tindakan adalah pihak yang menjadi sasaran perubahan memiliki tanggung jawab terhadap arah tidakan yang sekiranya akan menuju perbaikan dan tanggung jawab untuk mengevaluasi hasil dari strategi atau cara yang diterapkan dalam praktik.
Gagasan Lewin tersebut kemudian dikembangkan oleh para ahli seperti Stephen Kemmis, Robin Mc Tanggart, John Elliott, Dave Ebutt, dan lainnya ke seluruh Eropa, Amerika Latin, dan Australia.[2] Pada perkembangannya, penelitian tindakan berkembang di masing-masing daerah dengan ciri yang berbeda. Meskipun demikian, prinsip-prinsip penelitian tindakan tetap sama.
Dalam bidang pendidikan, penelitian tindakan pertama kali dilaksanakan oleh Stephen Corey.[3] Ia juga mengajak semua guru untuk menjadi peneliti di ruang kelas mereka sendiri. Dengan penelitian tindakan ini, guru dapat menjadi pihak yang paling tahu tentang dunianya (kelas dan pengajarannya) dan paling tahu tentang cara yang paling baik untuk memperbaiki hal-hal yang kurang baik dalam dunianya itu.
Di Indonesia sudah banyak dikenal adanya Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pada hakikatnya, penelitian tindakan memiliki ruang lingkup yang lebih luas dibandingkan PTK karena obyek penelitian penelitian tindakan tidak hanya terbatas dalam kelas saja, tetapi dapat pula diterapkan di luar kelas, komunitas, masyarakat, dan sebagainya. Adapun pengertian dari penelitian tindakan, sebagaimana diungkapkan oleh banyak pakar adalah sebagai berikut:[4]
1.      Penelitian tindakan merupakan kajian dari sebuah situasi sosial dengan kemungkinan tindakan untuk memperbaiki kualitas situasi sosial tersebut. Pengertian ini disampaikan oleh John Elliott.
2.      Penelitian tindakan merupakan integrasi dari serangkaian tindakan (implementasi dari perencanaan) yang disertai dengan penelitian.[5]
3.      Kurt Lewin mendefinisikan penelitian tindakan sebagai suatu rangkaian langkah yang terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
4.      Penelitian tindakan merupakan suatu bentuk self-inquiry kolektif yang dilakukan oleh para partisipan di dalam situasi sosial untuk meningkatkan rasionalitas dari praktik sosial atau pendidikan yang mereka lakukan, serta mempertinggi pemahaman mereka terhadap praktik dan situasi di mana praktik itu dilaksanakan. Definisi ini disampaikan oleh Kemmis & Taggart.[6]
Sebenarnya masih banyak definisi mengenai penelitian tindakan yang disampaikan oleh para ahli. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan adalah merupakan suatu bentuk penelitian reflektif diri yang dilakukan dilakukan peneliti dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan. Penelitian tindakan bertujuan untuk memperoleh pemahaman dan perbaikan yang komprehensif mengenai praktik dan situasi yang dialami peneliti itu sendiri. Penelitian tindakan menekankan kepada kegiatan/tindakan (treatment) dengan mengujicobakan suatu ide ke dalam praktik atau situasi nyata dalam skala mikro, yang diharapkan tindakan tersebut mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas pada situasi tertentu.
Setidaknya terdapat dua hal pokok dalam penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini akan mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu; (1) untuk memperbaiki praktik; (2) untuk pengembangan profesional dalam arti meningkatkan pemahaman para praktisi terhadap praktik yang dilaksanakannya; serta (3) untuk memperbaiki keadaan atau situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan.[7]
Banyak nama lain untuk penelitian tindakan (action research), diantaranya, penelitian partisipatori (partisipatory research), penelitian kolaboratif (collaborative inquiry), penelitian emansipatori (emancipatory research), pembelajaran tindakan (action learning) dan penelitian tindakan kontekstual (contextual action research), akan tetapi semuanya bervariasi pada suatu tema. Secara sederhana penelitian tindakan merupakan “belajar dengan melakukan” (learning by doing): suatu kelompok orang mengidentifikasi suatu masalah, melakukan sesuatu untuk memecahkannya, mengamati bagaimana keberhasilan usaha mereka, dan jika belum memadai, mereka mencoba lagi.
Dalam bidang pendidikan, khususnya dalam praktik pembelajaran, penelitian tindakan berkembang menjadi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Reserach (CAR). PTK adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan di dalam kelas ketika pembelajaran berlangsung. PTK dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas. 

B.     Prinsip dan Karakteristik Penelitian Tindakan
Dalam melaksanakan penelitian tindakan, ada enam prinsip atau asas yang harus diperhatikan. Enam prinsip tersebut adalah:[8]
1.      Prinsip kritik reflektif
Suatu perhitungan dari suatu situasi, seperti catatan-catatan atau dokumen pejabat akan membuat tuntutan tersembunyi menjadi lebih berwibawa, yaitu yang bersifat faktual dan kebenaran. Kebenaran dalam setting sosial, bagaimanapun berhubungan dengan orang yang mengalaminya. Prinsip kritik reflektif menjamin orang-orang merefleksikan pada isu-isu dan proses serta membuat eksplisit interpretasi, penyimpangan, asumsi, dan peduli terhadap mana pertimbangan dibuat. Dengan cara ini, perhitungan praktis dapat memberikan kemajuan pada pertimbangan teoretis.  
2.      Prinsip kritik dialektis
Fenomena dikonseptualisasi dalam dialog, oleh karena itu suatu kritik dialektika diperlukan untuk memahami serangkaian hubungan antara fenomena dan konteksnya, dan antara elemen-elemen pembentuk fenomena tersebut. Elemen-elemen kunci untuk memusatkan perhatian pada elemen-elemen pembentuk yang tidak stabil, atau dalam pertentangan satu sama lain. Ini adalah suatu yang dipastikan dapat menciptakan perubahan. 
3.      Prinsip sumber daya kolaboratif
Prinsip sumber daya kolaboratif mempersyaratkan bahwa setiap gagasan seseorang sama penting seperti sumber daya potensial untuk menciptakan kategori interpretif analisis, merundingkan di antara partisipan tersebut. Sudut pandang setiap partisipan  akan dianggap memberikan andil pada pemahaman. Perlu diingat bahwa peneliti merupakan bagian dari situasi yang diteliti;bukan hanya pengamat.
4.      Prinsip resiko
Proses perubahan berpotensi mengancam semua cara yang telah ditetapkan sebelumnya untuk melakukan sesuatu, dengan begitu menciptakan ketakutan psikis di antara para praktisi itu. Prinsip ini mengacu pada keberanian peneliti untuk mengambil resiko dalam penelitiannya.
5.      Prinsip struktur majemuk
Sifat penelitian tindakan yang dialektis, reflektif, dan kolaboratif, memungkinkan sekali dihasilkannya struktur majemuk. Struktur itu berwujud suatu serbaragam pandangan, komentar dan kritik, mendorong ke arah berbagai penafsiran dan tindakan yang mungkin. Struktur jamak dari penelitian ini memerlukan suatu teks jamak untuk melaporkan. Ini berarti bahwa akan ada banyak perhitungan dibuat secara eksplisit, dengan komentar pada  pertentangan mereka, dan rentangan pilihan untuk tindakan yang diperkenalkan.
6.      Prinsip teori, praktik, dan transformasi
Dalam penelitian tindakan, teori menginformasikan praktik, praktik menyuling teori, di dalam suatu transformasi yang kontinu. Didalam suatu latar, tindakan masyarakat didasarkan pada asumsi-asumsi yang dipegang secara implisit; teori dan hipotesis; Setiap hasil yang teramati pengetahuan teoretis ditingkatkan. Kedua aspek terjalin dari suatu proses perubahan tunggal. Langkah berikutnya yang diikuti diperlakukan untuk analisis lebih lanjut, dalam suatu siklus transformatif, yang secara kontinu mengubah penekanan antara teori dan praktik.
Adapun ciri dan karakteristik penelitian tindakan sebagaimana dijelaskan Elliot,[9]  antara lain:
1.      Masalah yang dipecahkan merupakan persoalan praktis
2.      Peneliti memberikan perlakuan tindakan (treatment) yang terrencana
3.      Langkah penelitian yang direncanakan selalu dalam bentuk siklus, tingkatan, atau alur
4.      Adanya langkah berpikir reflektif dari peneliti baik sesudah maupun sebelum tindakan
5.      Bersifat situasional kontekstual
6.      Menggunakan pendekatan yang kolaboratif
7.      Bersifat parsipatori, yakni masing-masing anggota tim ikut mengambil bagian dalam pelaksanaan penelitiannya
8.      Bersifat self-evaluative, yakni peneliti melakukan evaluasi sendiri secara kontinyu
9.      Bersifat on the spot, artinya penelitian didesain untuk menyelesaikan masalah di tempat itu juga
10.  Temuannya diterapkan segera dan berprespektif jangka panjang
11.  Memiliki sifat keluwesan dan adaptif.
 
Penelitian Tindakan menjadi sarana ampuh mengatasi permasalahan pembelajaran
C.    Jenis dan Langkah-langkah Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan terdiri dari empat jenis,[10] yaitu:
1.      Penelitian tindakan diagnostik; yang dimaksud dengan penelitian tindakan diagnostik ialah penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosa dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. Sebagai contohnya ialah apabila peneliti berupaya menangani perselisihan, pertengkaran, konflik yang dilakukan antar siswa yang terdapat di suatu sekolah atau kelas.
2.      Penelitian tindakan partisipan; suatu penelitian dikatakan sebagai penelitian tindakan partisipan ialah apabila orang yang akan melaksanakan penelitian harus terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan. Dengan demikian, sejak penencanan penelitian peneliti senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mencatat, dan mengumpulkan data, lalu menganalisa data serta berakhir dengan melaporkan hasil penelitiannya. Penelitian tindakan partisipasi dapat juga dilakukan di sekolah, hanya saja, di sini peneliti dituntut keterlibatannya secara langsung dan terus-menerus sejak awal sampai berakhir penelitian.
3.      Penelitian tindakan empiris; yang dimaksud dengan penelitian tindakan empiris ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan membukakan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitiannya berkenaan dengan penyimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman peneliti dalam pekerjaan sehari-hari.
4.      Penelitian tindakan eksperimental; ialah apabila penelitian tindakan diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatan belajar-mengajar. Di dalam kaitanya dengan kegiatan belajar-mengajar, dimungkinkan terdapat lebih dari satu strategi atau teknik yang ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional. Dengan diterapkannya penelitian tindakan ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran.
Secara garis besar, penelitian tindakan dilakukan melalui proses yang dinamis dan komplementer yang terdiri dari empat tahapan esensial,[11] yaitu:
1.      Perencanaan
Perencanaan adalah mengembangkan rencana tindakan yang secara kritis untuk meningkatkan apa yang telah terjadi. Perencanaan disusun berdasarkan masalah dan hipotesis tindakan yang diuji secara empirik sehingga perubahan yang diharapkan dapat mengidentifikasi aspek dan hasil sekaligus mengungkap faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan tindakan.
Hasil dari tahap perencanaan ini adalah gambaran yang jelas tentang tema penelitian dan alasan memilihnya; garis besar anggota kelompok tindakan; garis besar secara lebih rinci dan jadwal tindakan; gambaran tentang rencana pihak-pihak yang terlibat; gambaran cara memonitor perubahan selama pelaksanaan tindakan; gambaran awal tentang evidensi data yang dikumpulkan.
2.      Tindakan/Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah implementasi dari rencana. Tindakan yang dilaksanakan adalah tindakan yang disengaja dan terkendali. Tindakan pertama berfungsi sebagai landasan bagi pengembangan lebih jauh dari tindakan berikutnya. Suatu tindakan hendaknya dilandasi dengan niat untuk mengembangkan atau memperbaiki situasi. Jika dilihat urutannya, tindakan diarahkan oleh perencanaan, dalam arti bahwa tindakan harus memperhatikan perencanaan sebagai landasannya. Salah satu perbedaan penelitian tindakan dengan penelitian lainnya adalah bahwa penelitian tindakan diamati. Pelakunya mengumpulkan bukti tentang tindakan mereka agar sepenuhnya dapat menilainya.
3.      Observasi/Pengamatan
Observasi dalam penelitian tindakan berfungsi untuk mendokumentasikan implementasi perencanaan dalam pelaksanaan tindakan. Observasi juga bersifat prospektif (memandang ke depan) karena menjadi dasar bagi penilaian (refleksi atau evaluasi) terhadap tindakan sekarang, dan lebih-lebih lagi bagi tindakan yang akan datang selagi siklus yang sekarang berlangsung. Observasi yang cermat diperlukan karena tindakan pada umumnya mengalami kendala di lapangan. Kendala tidak selalu dapat diketahui sebelumnya. Observasi harus direncanakan tetapi tidak boleh terlalu sempit. Observasi harus bersifat responsif dan terbuka. Seperti halnya tindakan, rencana observasi harus luwes dan memberi peluang untuk mencatat hal-hal yang tidak diharapkan. Peneliti perlu mengamati proses tindakan, pengaruh tindakan pada situasi (baik yang dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki), kendala yang timbul, dan masalah-masalah lain yang muncul. Observasi selalu diarahkan oleh tujuan untuk memberikan dasar bagi refleksi atau penilaian. Dengan cara ini, observasi dapat membantu meningkatkan praktik melalui pemahaman yang lebih baik dan melalui tindakan strategis yang lebih memadai. 
4.      Refleksi
Refleksi bersifat retrospektif. Artinya, refleksi akan melihat kembali tindakan yang telah dicatat dalam tahap observasi. Refleksi berusaha memberi makna pada proses, masalah, persoalan dan kendala yang muncul ketika tindakan strategis dilaksanakan, dan efektifitas tindakan untuk memecahkan masalah atau meningkatkan situasi. Refleksi mempertimbangkan berbagai macam perspektif dari pihak-pihak yang terlibat dan berusaha memahami permasalahan dan penyebab timbulnya permasalahan. Refleksi biasanya dilakukan melalui diskusi antara pihak-pihak tersebut (misalnya, kolaborator). Diskusi akan mengarah pada pemahaman baru dan dijadikan dasar untuk memperbaiki rencana yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya. Refleksi merupakan kegiatan analisis, interpretasi, dan eksplanasi terhadap semua informasi yang diperoleh dari observasi atas pelaksanaan tindakan. Refleksi memiliki aspek evaluatif, karena langkah ini meminta pihak-pihak yang terlibat untuk menimbang-nimbang dan menilai apakah tindakan strategis yang telah dilakukan efektif atau tidak.
Pada tataran praktis, penelitian tindakan dilaksanakan melalui beberapa langkah berikut:
1.      Identifikasi dan analisis masalah
Pada tahap ini peneliti mencari dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi terkait situasi sosial yang terjadi. Langkah ini dapat ditempuh melalui pengamatan awal terhadap situasi sosial yang ada, atau melalui diskusi. Terdapat empat paradigma dalam menetapkan permasalahan yang hendak ditemukan solusinya dalam penelitian tindakan, yaitu: perspektif keilmuan; perspektif metode keilmuan; perspektif kepentingan dan kegunaan; serta perspektif teknis dan situasional.[12] Selanjutnya permasalahan tersebut dianalisis agar diketahui dimensi-dimensi akar permasalahan.


2.      Merumuskan masalah dan hipotesis tindakan
Salah satu catatan penting pada langkah perumusan masalah ini adalah rumusan masalah hendaknya dideskripsikan secara jelas, lugas, dan singkat. Sebaiknya rumusan masalah ini disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan dengan mengajukan alternatif tindakan yangakan dilakukan. Selanjutnya dirumuskan hipotesis tindakan yang diusulkan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan. Sebelum menetapkan rumusan tindakan, peneliti hendaknya mengelaborasi segala alternatif tindakan yang mungkin dilaksanakan. Ada perlunya peneliti juga berdiskusi dan berkonsultasi dengan pakar atau ahli pada bidang permasalahan terkait.
3.      Merumuskan rencana tindakan dan pemantauan
Berdasarkan rumusan masalah, peneliti mencoba mencari cara untuk memperbaiki atau memecahkan masalah tersebut. Cara perbaikan itu dirumuskan dalam suatu rancangan tindakan. Dalam merancang tindakan, peneliti dapat mengacu pada teori yang relevan, atau bertanya pada ahli. Rencana tindakan hendaknya memperhatikan data-data yang telah didapatkan pada pengamatan awal. Rencana tindakan berfungsi sebagai panduan pelaksanaan tindakan, oleh karena itu rencana tindakan harus memuat indikator-indikator perbaikan masalah dan peningkatan. Pada penelitian tindakan kelas, rencana tindakan ini dapat berupa rencapa pelaksanaan pembelajaran (RPP). Meskipun rencana tindakan ini perlu dirumuskan secara detil dan rinci, namun rencana tindakan hendaknya bersifat fleksibel dengan mempertimbangkan dinamika perubahan kondisi sosial yang terjadi seringkali tak terduga. Hal ini bertujuan agar tujuan pelaksanaan tindakan dapat tercapai dan terarah dengan baik.
4.      Melaksanakan tindakan dan mengamatinya
Pelaksanaan tindakan mengacu pada rencana tindakan yang  telah disusun sebelumnya, namun perlu diingat bahwa tindakan itu tidak secara mutlak dikendalikan oleh rencana tindakan. Oleh karena itu, peneliti perlu bersikap fleksibel dan siap mengubah rencana tindakan sesuai dengan kondisi yang terjadi. Pada saat tindakan dilaksanakan, maka pada saat itu juga data dikumpulkan. Data mencakup semua yang terjadi dalam situasi terkait, misalnya perubahan-perubahan gejala yang muncul dari subyek penelitian.
5.      Mengolah dan menganalisis data
Langkah pengolahan dan analisis data ini sering disebut sebagai refleksi. Refleksi dalam penelitian tindakan mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dan proses refleksi, maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan yang dihadapi dapat teratasi.   Dalam melaksanakan refleksi ini, peneliti perlu untuk mendiskusikannya dengan kolaborator atau teman sejawat. Untuk menjamin validitas data yang diperoleh, adakalanya peneliti juga menggunakan teknik-teknik analisis dan pengujian validitas yang relevan.
6.      Menyusun laporan penelitian
Langkah akhir dari sebuah penelitian adalah penyusunan laporan penelitian. Laporan ini disusun ketika peneliti sudah merasa puas terhadap hasil penelitian yang didapat, atau ketika tujuan penelitian itu sudah dicapai. Sebuah laporan penelitian berfungsi sebagai dokumentasi dan pertanggung jawaban terhadap pimpinannya. Laporan penelitian juga dapat menjadi sumber informasi untuk pihak-pihak lain yang ingin mengakses hasil penelitian yang telah dilaksanakan.

D.    Urgensi Penelitian Tindakan bagi Guru dan Pendidikan
Penelitian tindakan telah banyak diterapkan dalam berbagai bidang sosial, termasuk dalam bidang pendidikan. Secara khusus dalam bidang pembelajaran, penelitian tindakan dikenal dengan penelitian tindakan kelas (PTK) atau classroom action research (CAR). PTK berkembang pesat di berbagai negara maju, seperti Amerika serikat, Kanada, Australia, Inggris, dan berbagai negara maju lainnya. Sementara di Indonesia, PTK baru dikenal pada akhir dekade 80-an, namun baru pada beberapa tahun belakangan ini PTK mulai digalakkan untuk dilaksanakan oleh guru-guru di Indonesia. Sebagai penelitian terapan, PTK mempunyai fungsi yang penting bagi peningkatan mutu pendidikan.
Dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru sudah pasti akan berhadapan dengan berbagai persoalan baik menyangkut peserta didik,  subject matter, maupun metode pembelajaran. Sebagai seorang profesional, guru harus mampu membuat professional judgement yang didasarkan pada data sekaligus teori yang akurat. Selain itu guru juga harus melakukan peningkatan mutu pembelajaran secara terus menerus agar prestasi belajar peserta didik optimal disertai dengan kepuasan yang tinggi.
Untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal dibutuhkan guru yang kreatif dan inovatif yang selalu mempunyai keinginan terus menerus untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya. Salah satu upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran itu adalah dengan melaksanakan PTK. Dengan PTK, kekurangan dan kelemahan yang terjadi dalam proses belajar mengajar dapat teridentifikasi dan terdeteksi, dan selanjutnya dapat diberikan solusi yang tepat.
Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan melalui tindakan yang akan dilakukan. PTK juga bertujuan untuk meningkatkan kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesinya. Tujuan khusus PTK adalah untuk mengatasi berbagai persoalan nyata guna memperbaiki atau meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas. Dengan demikian, PTK dapat menjadi solusi perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran.
PTK juga mempunyai beberapa keunggulan sebagai solusi peningkatan kualitas pembelajaran, diantaranya: a) merupakan pendekatan pemecahan masalah yang bukan sekadar trial and error; b) menangani masalah-masalah faktual yang dihadapi guru dalam pembelajaran; c) guru sebagai peneliti tidak perlu meninggalkan tugas utamanya, yakni mengajar; d) mengembangkan iklim akademik dan profesionalitas guru.[13]



III.   KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1)      Penelitian tindakan adalah merupakan suatu bentuk penelitian reflektif diri yang dilakukan dilakukan peneliti dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan. Penelitian tindakan bertujuan untuk memperoleh pemahaman dan perbaikan yang komprehensif mengenai praktik dan situasi yang dialami peneliti itu sendiri. Penelitian tindakan menekankan kepada kegiatan/tindakan (treatment) dengan mengujicobakan suatu ide ke dalam praktik atau situasi nyata dalam skala mikro, yang diharapkan tindakan tersebut mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas pada situasi tertentu.
2)      Penelitian tindakan memiliki empat tahapan pokok dalam setiap siklusnya, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi/pengamatan, dan refleksi.
3)      Pada tataran praktis, penelitian tindakan memiliki langkah-langkah berikut, yaitu: identifikasi dan analisis masalah; merumuskan masalah dan hipotesis tindakan; merumuskan rencana tindakan dan pemantauan; melaksanakan tindakan dan mengamatinya; mengolah dan menganalisis data; serta menyusun laporan penelitian.
4)      Dalam dunia pendidikan, penelitian tindakan menjadi salah satu upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran, yaitu dengan Penelitian Tindakan Kelas atau PTK.













DAFTAR PUSTAKA
 
Aqib, Zainal, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: Yrama Widya, 2006.
Burns, A.,  Collaborative Action Research for English Language Teachers. Cambridge: Cambridge University Press, 1999.
Elliot, John, Action Research for Educational Change, Buckingham: Open University Press, 1991.
Hine, Gregory S.C, The Importance of Action Research in Teacher Education Programs, Teaching and Learning Forum, 2013.
Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Rajawali Press, 2011.
Syamsuddin AR & Damaianti, Vismaia S., Metode Penelitian Pendidikan Bahasa, Bandung: Remaja Rosdakarya,2006.
Direktorat Tenaga Kependidikan, Membimbing Guru dalam Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Kemdiknas, 2010,.
Action Research in Education, State of NSW: Department of Education and Training Professional Learning and Leadership Development Directorate. 2010.




[1] Direktorat Tenaga Kependidikan, Membimbing Guru dalam Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Kemdiknas, 2010, 4.
[2] Zainal Aqib, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: Yrama Widya, 2006, 13.
[3] A. Burns..  Collaborative Action Research for English Language Teachers. Cambridge: Cambridge University Press, 1999,
[4] Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Rajawali Press, 2011,42-44.
[5] Action Research in Education, State of NSW: Department of Education and Training Professional Learning and Leadership Development Directorate. 2010, 1.
[6] Gregory S.C Hine, The Importance of Action Research in Teacher Education Programs, Teaching and Learning Forum, 2013.
[7] Direktorat Tenaga Kependidikan, Membimbing Guru …, 4.
[8] Syamsuddin AR & Vismaia S. Damaianti, Metode Penelitian Pendidikan Bahasa, Bandung: Remaja Rosdakarya,2006, 195-196.
[9] John Elliot, Action Research for Educational Change, Buckingham: Open University Press, 1991, 49-56.
[10] Syamsuddin AR & Vismaia S. Damaianti, Metode Penelitian…, 208-209.
[11] Kunandar, Langkah Mudah…, 70-76.
[12] Kunandar, Langkah Mudah…, 2011,84.
[13] Kunandar, Langkah Mudah…, Jakarta: Rajawali Press, 2011, 51.

No comments:

Post a Comment