Blog tentang Pendidikan, Guru, Pembelajaran, dan Sekolah

Tuesday, January 22, 2019

NILAI KARAKTER DALAM PROVERB “Yawn if you must, but cover your mouth”



I.     PENDAHULUAN
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.[1] Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan  harus berkarakter.
Tujuan pendidikan karakter adalah meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Pendidikan karakter dalam lingkup nasional dilakukan dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa  kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[2]
Salah satu strategi penanaman karakter adalah dengan pembiasaan akhlak-akhlak mulia. Pembiasaan akhlak mulia itu dapat dilakukan dengan habituasi dan intervensi. Salah satunya dengan penanaman proverb, slogan, aturan yang mengatur perilaku siswa. Makalah berikut ini akan membahas salah satu proverb yang mengatur salah satu aspek perilaku siswa. Adapun proverb yang akan dibahas dalam makalah ini adalah : Yawn if you must, but cover your mouth (Menguaplah jika kamu harus menguap, tetapi tutulah mulutmu).
II.  PEMBAHASAN
A.    Definisi Istilah dan Makna Penting
Yawn berarti menguap.[3] Menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut, dan bukan mulut dengan cara biasa menarik nafas dalam-dalam. Karena mulut bukanlah organ yang disiapkan untuk menyaring udara seperti hidung, maka apabila mulut tetap dalam keadaan terbuka ketika menguap, maka masuk juga berbagai jenis mikroba dan debu, atau kutu bersamaan dengan masuknya udara ke dalam tubuh. Kuap atau menguap adalah sebuah gerakan refleks menarik dan menghembuskan napas yang sering terjadi saat seseorang merasa letih atau mengantuk.
Menguap merupakan sebuah refleks dimana kita merenggangkan rahang dengan membuka lebar-lebar mulut dan dengan menarik napas dalam-dalam, serta diikuti dengan mengeluarkan napas pendek. Menguap sendiri tidak hanya dilakukan pada saat kita baru bangun pagi ataupun mengantuk, hal ini juga kemungkin besar dapat terjadi saat kita melihat orang lain menguap. Hal ini juga terlihat pada binatang dan bahkan bayi dalam janin saja dapat menguap.
Berdasarkan sebuah hipotesis, sebab seseorang menguap adalah karena menguap  itu bertindak sebagai pendingin. Hipotesis ini berdasarkan sebuah percobaan kompres panas dan kompres dingin. Mereka yang meletakkan kompres panas di kepala mereka menguap sebanyak 41% kali dibandingkan mereka yang meletakkan kompres dingin hanya 9%.
Hipotesis tersebut menyebutkan bahwa otak manusia lebih cepat panas dibandingkan organ lainya, dengan menguap maka udara yang masuk akan membuat tubuh kita mengalami sebuah proses alamiah yang mendorong alur darah ke kepala dan pergantian udara saat kita menarik napas dan mengelauarkannya kembali akan mengubah temperatur aliran darah tersebut menjadi lebih dingin.[4]
Penelitian pada scan otak baru-baru ini, menunjukkan bahwa menguap mampu membangkitkan aktifitas neural pada bagian otak yang berfungsi menghasilkan kesadaran sosial dan menciptakan perasaan empati. Bagian otak tersebut adalah precuneus, bagian kecil yang tersembunyi dalam lipatan lobus parietalis, yang berperan sentral dalam kesadaran, refleksi diri, dan pengambilan memori. Pada bagian ini juga yang paling sering dan paling parah terserang penyakit yang berkaitan dengan usia.
Menguap penting untuk membuka saluran Eustachius (yang berawal di telinga menuju tenggorokan) dan untuk menyesuaikan tekanan udara di telinga tengah.[5]
Para peneliti telah menemukan bahwa menguap mendinginkan otak, mencegahnya terlalu panas, yang bisa mengurangi kewaspadaan. Suhu intim otak meningkat ketika kita lelah dan ketika kita bosan. Menguap berfungsi dalam meningkatkan aliran darah arteri dan memungkinkan aliran darah yang lebih dingin ke otak. Untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang terjadi di dalam tubuh cukup sederhana. Ketika menguap, mulut terbuka dan menghirup dalam-dalam, dan berakhir dengan napas pendek. Selama itu, otot di sekitar otak berkontraksi dan meregang serta Anda mengambil udara. Kemudian, darah dingin di dorong ke arah tengkorak saat darah hangat didorong keluar.
Menguap merupakan refleks tubuh yang terjadi saat kondisi tubuh memang benar-benar membutuhkan. Namun demikian, jika intensitas menguap meningkat melampaui batas normal, bisa jadi menguap itu merupakan tanda /indikasi bahwa tubuh sedang bermasalah. Ketidakberesan tubuh yang ditandai dengan sering menguap di antaranya sebagai berikut: menderita penyakit saraf, seperti Multiple Sclerosis dan Amyotropic Lateral Sclerosis; menderita darah rendah dengan tekanan darah 90/60 mmHg. Orang yang memiliki tensi darah yang rendah biasanya sering menguap, cepat pusing dan lelah.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, menguap memang terjadi secara alamiah dan natural, namun secara etika menguap merupakan tindakan yang kurang baik. Bagi beberapa daerah, menguap merefleksikan seseorang yang dalam keadaan bosan dan malas, bahkan menguap juga sering dianggap sebuah perilaku yang asosial. Oleh karena itu, ada adab dan etika yang harus dilakukan saat seseorang harus menguap.
Salah satu hadits nabi menyebutkan bahwa Allah tidak menyukai menguap karena menguap itu berasal dari setan.[6]
حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللَّهَ كَانَ حَقًّا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَبَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ
Artinya:
“Nabi berkata : Sesungguhnya allah menyukai orang yang bersin dan tidak menyukai menguap. Jika salah seorang dari kalian bersin dan membaca hamdalah maka setiap muslim yang mendengarnya, hendaknya berucap “yarhamuka Allah (semoga Allah merahmatimu). Adapun menguap itu berasal dari setan, maka jika salah seorang diantaramu menguap maka hendaklah ia menahannya semampunya. Jika ketika menguap ia bersuara “hah” maka setan tertawa karenanya.”

Hadits diatas menunjukkan bahwa perilaku menguap merupakan sebuah hal yang kurang baik, meskipun secara alamiah seseorang membutuhkan menguap itu. Sebisa mungkin seseorang yang hendak menguap harus menahannya agar tidak membuka mulut lebar-lebar, apalagi sampai bersuara. Apabila seseorang memang tidak mampu untuk menahan menguap, maka hendaknya ia menutup mulutnya dengan meletakkan tangannya pada mulutnya. Hal ini sesuai dengan hadits nabi berikut:[7]
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ أَنْبَأَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَضَعْ يَدَهُ عَلَى فِيهِ وَلَا يَعْوِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَضْحَكُ مِنْهُ
Artinya :
“Rasulullah bersabda: Ketika salah seorang dari kalian menguap, maka letakkanlah tangan di mulutnya dan jangan sampai bersuara karena sesungguhnya setan tertawa karenanya.”

Dari sisi hubungan sosial dengan orang lain, menguap merupakan perbuatan yang kurang baik dan tidak sopan. Meskipun menguap merupakan aktifitas pribadi, namun seseorang harus memperhatikan aspek sosial ketika menguap.[8] Menguap sambil membuka mulut lebar-lebar apalagi sampai bersuara merupakan perbuatan yang tidak sopan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa menguap merupakan perilaku personal. Akan tetapi sebagai makhluk yang berhubungan dengan manusia lainnya, perilaku menguap juga diatur etikanya. Seseorang yang menutup mulut ketika menguap berarti telah menjaga etika dan sopan santun terhadap orang-orang di sekitarnya.
Seseorang yang telah menerapkan proverb “Yawn if you must, but coveryour mouth” berarti telah menjaga kesopanan terhadap orang lain. Istilah ini mengakomodir kebutuhan fisik seseorang yang terkadang memang membutuhkan untuk menguap, tetapi tetap memperhatikan kesopanan dalam berperilaku di hadapan orang lain.

B.     Contoh Peristiwa Terkait ‘menguap’
Agama telah memberikan gambaran perilaku (baca:karakter) yang baik dalam segala perilaku keseharian manusia, termasuk ketika sedang menguap. Aturan tersebut selain bertujuan agar manusia menjadi orang dengan karakter yang baik, juga bertujuan untuk menjaga keselamatan manusia. Peristiwa berikut ini mungkin dapat menjadi pelajaran bagi kita agar selalu menjaga etika dan sopan santun, terutama saat menguap.
Seorang gadis bernama Holly Thompson,[9] asal Inggris mengalami kejadian yang tidak dapat terlupakan seumur hidupnya. Gadis 17 tahun itu menguap saat sedang mengikuti pelajaran politik di sekolahnya, Kingsthorpe, Northampton. Saat menguap, ia membuka mulut lebar-lebar, dan setelah itu ia seperti terperangkap. Mulutnya tidak dapat mengatup kembali. 
Terkejut tidak dapat menutup mulutnya kembali, Holly segera meminta batuan teman sekelasnya, namun sia-sia, mulutnya tetap tidak dapat mengatup. Holly langsung memeriksakan diri ke unit kesehatan sekolah. Namun, semua upaya yang dilakukan perawat untuk menutup rahangnya gagal. Ia lalu dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.  Walaupun sangat aneh dan mungkin lucu, dokter Ejiro Obakponovwe tidak berpikir hal tersebut patut ditertawakan. "Ini bisa sangat serius karena dia tidak bisa makan, tidak bisa benar-benar minum, dan akan benar-benar dehidrasi," ujar Ejiro dalam acara BBC 'Bizarre ER'. 
Untuk mengatasi hal ini, Ejiro meletakkan 26 depressors lidah di mulut Holly. Ini dilakukan untuk membuat rahang letih dan rileks sehingga bisa kembali mengatup. Setelah itu berhasil, Ejiro pun memperbaiki posisi rahang Holly dengan kedua tangannya. Setelah kejadian itu, Holly dilarang menguap, karena posisi rahangnya menjadi tidak stabil. 
C.    Strategi Mempertahankan Karakter Kesopanan
Secara garis besar, pendidikan karakter dilaksanakan melalui dua strategi, yaitu strategi habituasi[10] dan strategi intervensi. Strategi habituasi dilaksanakan untuk menciptakan situasi dan kondisi serta penguatan yang memungkinkan peserta didik pada satuan pendidikannya, di rumahnya, di lingkungan masyarakatnya  membiasakan diri berperilaku sesuai nilai dan menjadi karakter yang telah diinternalisasi dan dipersonalisasi dari dan melalui proses intervensi. Proses pembudayaan dan pemberdayaan yang mencakup pemberian contoh, pembelajaran, pembiasaan, dan penguatan harus dikembangkan secara  sistemik, holistik, dan dinamis.
Masnur Muslich menyebutkan adalima pendekatan yang dapat digunakan untuk melaksanakan pendidikan karakter, yaitu pendekatan penanaman nilai, perkembangan kognitif, analisis nilai, klarifikasi nilai, dan pembelajaran berbuat.[11] Kelima pendekatan ini hendaknya diterapkan secara holistik dengan memperhatika karakter dan kondisi anak. Tujuannya adalah agar karakter yang dikehendaki dapat tertanam dengan baik dan menjadi karakter pribadi anak tersebut.
Terkait dengan perilaku menguap, penulis punya sedikit pengalaman tentang pengajaran yang dilakukan oleh guru penulis semasa belajar di Madrasah Tsanawiyyah dulu. Salah seorang guru penulis yang bernama KH. Yasin Djalil (alm) menerapkan peraturan dalam kelasnya, jika siswa kedapatan menguap tanpa menutup mulut maka siswa tersebut akan dikenakan denda sebesar seratus rupiah saat itu juga. Sosok guru yang tegas dan berwibawa, selalu konsisten untuk menerapkan aturan yang telah disepakati, terbukti dapat “memaksa” siswa untuk menerapkan kebiasaan baik tersebut dalam perilaku kesehariannya. Pada akhirnya perilaku menutup mulut saat menguap telah menjadi kebiasaan siswa. Dibutuhkan ketegasan dan konsistensi dari semua pihak untuk selalu menjaga penerapan aturan tersebut selama proses penanaman karakter.


D.    Proverb Lain Terkait Kesopanan dalam Berperilaku
1.      Palingkanlah wajah ke arah kiri ketika bersin dan ucapkanlah hamdalah sesudahnya.
2.      Saat makan, jangan bersuara.
3.      Menunduklah dan beri salam ketika lewat di hadapan orang yang lebih tua.
4.      Jika terpaksa kentut, carilah tempat yang jauh dari orang lain
5.      Hindarkan bau mulut, terutama saat berbicara dengan orang lain

III.   PENUTUP
Penanaman karakter sopan santun pada anak dapat dilakukan dalam segala hal dalam keseharian kita. Dibutuhkan ketegasan dan konsistensi dari semua pihak untuk selalu menjaga penerapan aturan tersebut selama proses penanaman karakter. Kebutuhan fisik memang perlu dipenuhi, tapi tidak boleh mengabaikan aspek kesopanan dalam berperilaku.








DAFTAR PUSTAKA
Echols, John M., dan Shadily, Hassan,  Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1976.
Gunawan, Heri,  Pendidikan Karakter:Konsep dan Implementasi, Bandung: Alfabeta, 2014.
Juan, Stephen, Tubuh Ajaib: Membuka Misteri-misteri Aneh dan Menakjubkan Tubuh Kita, terj.T Hermaya, Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2006.
Muslich, Masnur, Pendidikan Karakter, Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
Rakhmat, Jalaludin, Psikologi Agama: Sebuah Pengantar, Jakarta: Pustaka Mizan, 2013.
Samani, Muchlas, Hariyanto, Pendidikan Karakter, Bandung:Remaja Rosdakarya, 2013.
www,puskurbuk.net/ Kerangka Acuan Pendidikan Karakter.
Liputan6,com
Shahih Bukhari.
Sunan Ibnu Majah.


[1] Heri Gunawan, Pendidikan Karakter:Konsep dan Implementasi, Bandung:Alfabeta, 2014, 24.
[2] www,puskurbuk.net/ Kerangka Acuan Pendidikan Karakter.
[3] John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1976, 658.
[4] Liputan6.com
[5] Stephen Juan, Tubuh Ajaib: Membuka Misteri-misteri Aneh dan Menakjubkan Tubuh Kita, terj.T Hermaya, Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2006, 112-114.
[6] Hadits nomor 5758 dalam Shahih Bukhari, juz 19, 233.
[7] Hadits nomor 958 dalam Sunan Ibnu Majah, juz 3, 232.
[8] Jalaludin Rakhmat, Psikologi Agama: Sebuah Pengantar, Jakarta: Pustaka Mizan, 2013, 216.
[9] Kisah ini penulis baca pada laman 
[10] Muchlas Samani, Hariyanto, Pendidikan Karakter, Bandung:Remaja Rosdakarya, 2013, 145-146.
[11] Masnur Muslich, Pendidikan Karakter, Jakarta: Bumi Aksara, 2011, 106-123.

No comments:

Post a Comment