CATATAN PAK GURU

Blog tentang Pendidikan, Guru, Pembelajaran, dan Sekolah

Monday, April 1, 2019

KUNCI JAWABAN Contoh Soal USBN SMP PAK (Agama Kristen)

5:50 PM 3
KUNCI JAWABAN Contoh Soal USBN SMP PAK (Agama Kristen)

Berhubung semakin banyaknya permintaan kunci jawaban soal pada Contoh Soal USBN SMP PAK (Agama Kristen). Silahkan ...

KUNCI JAWAB

I.    PILIHAN GANDA

1.
C

11.
A

21.
B

31.
D
2.
A

12.
B

22.
C

32.
D
3.
B

13.
B

23.
D

33.
C
4.
D

14.
D

24.
A

34.
B
5.
D

15.
A

25.
D

35.
B
6.
C

16.
D

26.
D

36.
D
7.
A

17.
A

27.
C

37.
B
8.
D

18.
B

28.
C

38.
C
9.
A

19.
C

29.
B

39.
B
10.
C

20.
A

30.
A

40.
D



 II. SOAL URAIAN

No
Jawaban
Skor
41
Karena itu pergilah
a. Jadikanlah semua bangsa murid-Ku
b. Baptikanlah mereka dalam nama Bapa ,Anak dan Roh Kudus
c. Dan ajarkanlah mereka melakukan segala sesuatu yang kuperintahkan kepadamu


10
10
10
42
3 aspek yang terdapat dalam pemeliharaan Allah
a.       Pelestarian
b.      Penyediaan
c.       pemerintahan

5
5
5

43
4 cara  Rut sekeluarga untuk menumbuh kembangkan iman keluarganya
a.       beribadah
b.      berdoa
c.       membaca Alkitab
d.      melakukan aktifitas rohani


5
5
5
5
44

1.      Bersyukur karena orang tuanya tidak meninggal
2.      Bersyukur karena ada pelajaran untuk berhati-hati
                                                      

10
10
45
Doktrin 3 sola
a.       sola fide: keselamatan hanya diperoleh melalui iman kepada Yesus Kristus
b.      sola gracia: keselamatan adalah anugerah Tuhan, manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri
c.       sola scriptura:   Alkitab sebagai pedoman orang yang diselamatkan

5

5

5


Jumlah skor
100

Tuesday, March 19, 2019

Hari ini, Forum Komunikasi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) PNS Non Sertifikasi Se-Indonesia Angkatan 2006-2016 Memperjuangkan Nasib Sertifikasinya

7:17 PM 0
Hari ini, Forum Komunikasi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) PNS Non Sertifikasi Se-Indonesia Angkatan 2006-2016 Memperjuangkan Nasib Sertifikasinya
Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) yang tergabung dalam Forum Komunikasi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) PNS Non Sertifikasi Se-Indonesia Angkatan 2006-2016 pada Hari Rabu, 20 Maret 2019, tepatnya besok hari mengadakan audiensi dengan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Islam Republik Indonesia terkait dengan Tidak Jelasnya Nasib Sertifikasi Bagi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) Non-Sertifikasi Se-Indonesia Angkatan 2006-2016. Sampai dengan detik ini, Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) PNS yang diangkat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Pemerintah Daerah (NIP Bukan Kemenag) Tahun 2006-2016 belum ada kejelasan sertifikasinya, bahkan tidak tersentuh. Padahal proses sertifikasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah terlaksana. Karena itulah melalui Forum Komunikasi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) PNS Non Sertifikasi Se-Indonesia Angkatan 2006-2016, yang berangotakan lebih dari 10.000 anggota se-Indonesia bermaksud menanyakan dan menuntut “atas ketidakadilan” tersebut.

Nur Munafiin, M.Pd., M.Ag selaku ketua Forum Komunikasi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) PNS Non Sertifikasi Se-Indonesia Angkatan 2006-2016 mengatakan bahwa: “berdasarkan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 4 Ayat 1 dan ayat 2, serta Pasal 42 ayat 1; Undang-undang No. 14 Tahun 2005; Undang-undang No. 5 Tahun 2014 Pasal 2; PP No. 55 Tahun 2007 Pasal 3 ayat 2, Pasal 6 ayat 1; PP No. 74 Tahun 2008 sebagaimana diubah dengan PP No. 19 Tahun 2017; Permendibud No. 5 Tahun 2012 sebagaimana diubah dengan Permendikbud No. 29 Tahun 2016 tentang Sertifikasi Bagi Guru yang Diangkat Sebelum 2016, maka jelas bahwa seharusnya Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) Angkatan 2006-2016 sudah selesai tersertifikasi. Tapi kenyataan di lapangan berkata lain, bukannya sudah tersertifikasi, namun justru nasib kami tidak jelas, luntang lantung, tanya sana sini malah dilempar sana sini. Kami menyadari bahwa Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) seperti kami bagai berdiri di antara dua kaki, di bawah Kemendikbud dan di bawah Kemenag. Harusnya dengan adanya 2 (dua) orang tua, nasib kami justru yang paling cerah, namun sebaliknya justru nasib kami tambah suram, di Kemendikbud bagaikan “anak buangan” dan di Kemenag bagaikan “anak tiri” lengkap sudah penderitaan kami.”

M. Rosyid Ridlo, M.Pd.I., sebagai sekretaris Forum Komunikasi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) PNS Non Sertifikasi Se-Indonesia Angkatan 2006-2016 menambahkan bahwa: “Kemenag ini UNIK, sudah minta jatah pengelolaan sertifikasi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) PNS yang diangkat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Pemerintah Daerah (NIP Bukan Kemenag) Tahun 2006-2016, eh...malah nasibnya dibikin tidak jelas. Perlu adanya kejelasan, perlu adanya keadilan. Kondisi ketidakadilan ini berakibat pada terhambatnya peningkatan karir GPAI tersebut, tidak bisa mengajukan kenaikan pangkat, tidak bisa bersaing dalam seleksi guru berprestasi, tidak bisa ikut seleksi kepala sekolah dan pengawas. Semua akses itu mensyaratkan Sertifikat Pendidik, sedangkan kami?”

Maka dengan memperhatikan: (1) akses mengikuti sertifikasi bagi Guru PNS Non-PAI yang diselenggarakan oleh Kemendikbud sudah terlaksana, sementara sertifikasi bagi GPAI PNS di sekolah hanya diperuntukkan bagi GPAI yang diangkat sebelum 30 Desember 2005. Sementara bagi GPAI yang diangkat setelah 01 Januari 2006 s/d 31 Desember 2015 belum dapat terlaksana; (2) adanya pembatasan peserta sertifikasi bagi GPAI, baik melalui PLPG dan/atau PPG yang didasarkan pada Permendikbud No. 5 Tahun 2012 tentang Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan, yakni hanya bagi guru yang diangkat sebelum 30 Desember 2005, padahal Permendibud tersebut nyata-nyata telah dihapus dan dinyatakan tidak berlaku dengan diundangkannya Permendikbud No. 29 Tahun 2016 tentang Sertifikasibagi Guru yang Diangkat Sebelum 2016 dan telah direvisi melalui Permendikbud No. 37 Tahun 2017 tentang Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan Melalui Program Profesi PPG; (3) banyaknya temuan calon peserta sertifikasi melalui PPG yang ditengarai memanipulasi data TMT mengajar demi dapat terjaring dalam daftar calon peserta PPG melalui pembuatan SK yang terindikasi manipulatif, seperti guru yang lahir pada tahun 1993 telah dapat menunjukkan SK mengajar pada tahun 2003; (4) terhambatnya peningkatan karir bagi GPAI PNS yang diangkat setelah tahun 2005, dikarenakan tidak memiliki sertifikat pendidik sebagaimana diamanatkan dalam Permenpan RB No. 16 Tahun 2009; (5) Surat Edaran Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI No: 20847/B-B4/GT/2017 tentang Pendaftaran Peserta PLPG bagi Guru yang Telah Memiliki Kualifikasi Akademik S2; (6) Surat Edaran Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI No: B-5118/DJ.I.IV/HM.01/11/2018 tentang Pemberkasan Calon Peserta Pretes; dan (7) Surat Edaran Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Budha Ditjen Bimas Budha Kementerian Agama RI No: B.126.DJ.VII/Dt.VII.I.3/PP.00.11/2019 tentang Pendataan Peserta PPG Tahun 2019, maka kami bermaksud mengadakan audiensi dengan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia pada Hari Rabu, 20 Maret 2019. Secara khusus Forum Komunikasi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) PNS Non Sertifikasi Se-Indonesia Angkatan 2006-2016 mengutus 40 orang perwakilan dari masing-masing provinsi untuk menanyakan kejelasan sertifikasi bagi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) PNS Non Sertifikasi Se-Indonesia Angkatan 2006-2016.

Nur Munafiin, M.Pd., M.Ag., mengatakan bahwa: “bisa saja kita datang rombongan ribuan GPAI untuk mengadakan aksi damai, namun lebih elok kiranya jika kita duduk bersama bermusyawarah dengan kepala dan hati dingin. Tuntutan kami sederhana segera disertifikasinya Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) PNS Non Sertifikasi Se-Indonesia Angkatan 2006-2016. Tuntutan yang sangat sederhana, bukannya mensertifikasi GPAI merupakan kewajiban Kemenag, toh juga mereka sendiri yang meminta jatah tersebut. Di samping itu, sertifikasi adalah hak kami sebagai PNS GPAI yang sudah mengabdi mencerdaskan para penerus bangsa ini.”

Nur Muafiin, M.Pd., M.Ag., menambahkan bahwa: “bukan tidak mungkin jika kami akan datang dengan ribuan anggota kami, jika tuntutan kami tidak dikabulkan. Berdasarkan pengalaman yang lalu, aksi damai yang melibatkan guru pasti akan dihadiri oleh ribuan guru dari seluruh Indonesia, karena guru adalah manusia dengan loyalitas tertinggi di negeri ini.”

Monday, March 11, 2019

Pidato Singkat Bahasa Arab beserta Terjemahannya

6:32 PM 0
Pidato merupakan penyampaian gagasan, pikiran, atau informasi, serta tujuan dari pembicara (audience) dengan cara lisan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan sebuah pidato antara lain : posisi berbicara; pengaturan suara dan intonasi serta pelafalan; penyisipan humor atau selingan; dan gerak tubuh.

Pentingnya Mencari Ilmu

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَـالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَـا وَالدِّيْنِ وَالصَّـلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ سَـيِّدِ المُرْسَـلِيْنَ مُحَـمٍّد وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ . رَبِّ اشْـَرحْ لِي صَـدْرِيْ وَيَسِّرْلِي أَمْـِريْ وَاحْلُلْ عُقْـدَةً مِنْ لِسَـانِي يَفْقَـهُ قَـوْلِي ...أَمَّـا بَعْد : قـال الله تعـالى في كتـابه الكريم أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم ( يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَّلذِيْنَ اُوْتُوا الْعِـلْمَ دَرَجَـاتٍ )
المُحْتَرَمُوْنَ
سِيَـادَةُ رَئِيْسِ الجَلَسَة
سِيَـادَةُ رَئِيْسِ المَدْرَسَة
سِيـَادَةُ الأَسَـاتِذ وَالأَسَـاتِذَة
وَجَمِيْعُ الأَصْحَـابِ الأَحِبَّـاء
أيَها الأحبة في الله:
هَيـَّا بِنَـا نَشْكُرُ اللهَ تعـالى الَّذِي قَدْ أَعْطَـانَا جَمِيْعَ نِعَمِهِ وَمِنَنِهِ عَلَيْنَا حَتَّي نَسْتَطِيْعَ أَنْ نَجْتَمِعَ فِي هَـذَا المَكَـان المُبَـارَك.
 نُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلىَ سَيِّدِنَا وَحبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ ص.م. وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أيَها الأحبة في الله : أُقَدِّمُ أَمَـامَكُمْ خُطْبَةً قَصِيْرَةً تَحْتَ المَوْضُوْعِ ( أَهَـمِّيَةُ التَّعَـلُّمِ ) كُلُّ هَـذَا لَيْسَ إِلاَّ لِأَمْـرِ أَسـَاتِذَتِنَـا المَحْبُوْبِيْن عَسَى اللهُ أَنْ يُوَفِّقُ مَـا سَأَقُوْل....ـ أمين.
أَيُّهَـا الإِخْوَةُ الأَعِـزَّاءُ : طَلَبُ العِـلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَيْنَا قـال رسول الله صـلى الله عليه وسـلَم ( طَلَبُ العِلْمِ فَـرِيْضَةٌ عَلَى كُـلِّ مُسْلِمٍ ) وَوُجُوْبُ طَلَبِ العِـلْمِ كـَافَّةً لِلرَّجُلِ وَالنِّسَـاءِ , لِلصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ حَتَّى قَالَ صـلى الله عليه وسـلَم ( أُطْلُبِ العِلْمَ مِنَ المَهْدِ اِلَى الَّلحْـدِ )
أَيُّهَـا الإِخْوَةُ الأَعِـزَّاءُ : كُنْ عَـالِمًـا وَلَا تَكُنْ جَـاهِلًا لِأَنَّ اللهَ تعـلى فَضَّلَ عِبَـادَهُ العَـالِمَ عَلىَ الجَـاهِلِ ,كَمَـا قال تعـالى فيِ كِتَـابِهِ الكَرِيْمِ (يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَّلذِيْنَ اُوْتُوا الْعِـلْمَ دَرَجَـاتٍ ) وكمـا قـال صـلى الله عليه وسـلَم ( فَضْلُ العَـالِمِ عَلَى العَـابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ عَلىَ سَائِرِ الكَوَاكِبِ ) وَقَـالَ العُلَمَـاءُ الأَخْـَيارُ : ( لَيْسَ المَـْرءُ يُوْلَـدُ عَـالِمًـا # وَلَيْسَ أَخُ العِـلْمِ كَمَنْ هُوَ جـَاهِلٌ )
أَيُّهَـا الإِخْوَةُ الأَعِـزَّاءُ : لَابُدَّ أَنْ نَغْتَنِمَ` أَوْقَاتَنَا بِكَثْرَةِ التَّعَلُّمِ وَتَقْلِيْلُ الَّلعْبِ لِأَنَّ التَّعَلُّمَ وَقْتُ الصِّغَـارِ يُسَهِّلُ لَنَا لِإِقْبَـالِ العِـلْمِ وَقُوَّةٍ فِي الحِفْظِ, قَـال الشَّـاعِرُ ( التَّعَلُّمُ فِي وَقْتِ الصِّغَـارِ كَـالنَّقْشِ عَلَى الحَجَـرِ وَالتَّعَلُّمُ فِي وَقْتِ الكِـبَـارِ كَـالنَّقْشِ عَـلَى المَـاءِ )
أَيُّهَـا الإِخْوَةُ الأَعِـزَّاءُ : وَلَكِنْ لَابُدَّ لَنَـا أَنْ نَتَذَكَّرَ بِأَنَّ العِـلْمَ بِغَيْرِ عَمَلٍ لاَ فَـائِدَةَ لَهَـا , كمـا قـال ( العـِلْمُ بِلاَ عَمَـلٍ كـَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَـرٍ ) لـِذَا، هَـيَّا بِنَـا نَعْمَـلَ بِمَـا عَـلِمْنَا وَنَبْدَأُ مِنْ أَنْفُسِنَا. وَأَهـمُّ شَيْئًا الذي لَانَنْسِيْهِ، هَيَّا بِنَا نَبِرُّ وَالدِيْنَا وَنَحْتَرِمُ أَسَـاتِـذَتِنَا لِأَنَّ ذلك كُـلَّهَـا سَبَبُ النَّجَـاحِ فِي الـدُّنْيَـا والأَخِـرَةِ , كمـا قال تعـالى ( يـَاأَيُّهَـا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا إِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فيِ المَجَـالِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا .)
أيها الأحبة في الله,, إِذَا وَجَـدْتُمْ خَطَأً فِي كَلاَمِي، كُلُّ ذَلِكَ مِنِّي,,, وَإِذَا وَجَدْتُمْ صَوَابًـا فَمِنَ اللهِ...وَأَخِيْرًا هَيَّـا بِنَا نَخْتِمُ هَذَا الكَلاَمَ باِلدُّعَـاء : الَّلهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا صَالِحَةً، وَاجْعَلْهَا لِوَجْهِكَ خَالِصَةً، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيْهَا شَيْئًا، يَا رَبِّ العَالَمِيْنَ هَـدَانَا اللهُ وَإِيَّـاكُمْ أَجْمَعِيْن .
والسلام عليكم ورحمة الله وبركـاته .
Yang terhormat:
Pengatur acara (MC),
Para dewan guru,
Teman-temanku yang tercinta,
Para hadirin yang berbahagia
Pertama-tama mari kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah swt yang telah memberikan kepada kita beribu-ribu nikmat-Nya sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang penuh berkah ini. Yang kedua mari kita sampaikan shalawat beserta salam kepada junjungan dan kekasih tercinta yakni Nabi Muhamamad saw, kepada keluarganya, dan para sahabatnya.
Para hadirin yang berbahagia.
Berdirinya saya di depan kalian tiada lain hanya untuk menyampaikan pidato singkat dengan judul: “Pentingnya Menuntut ilmu (belajar)”. Ini adalah tangggung jawab guru-guru kami  untuk menjelaskannya, akan tetapi semoga Allah memberikan taufik-nya kepada saya untuk dapat menjelaskannya.
Saudara-saudaraku yang berbahagia.
Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi kita sebagaimana Nabi Muhammad saw. bersabda: ”Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”. Dan kewajiban menututnya itu berlaku kepada semua orang baik laki-laki ataupun perempuan, anak kecil ataupun orang dewasa. Sampai Nabi mengatakan;” tuntutlah ilmu dari semenjak di buaian sampai liang lahat”.
Saudara-saudaraku yang berbahagia.
Jadilah orang yang berilmu dan janganlah menjadi orang yang bodoh karena Allah melebihkan hamba-Nya yang berilmu terhadap hamba-Nya yang bodoh. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:”Niscaya Allah akan meninggikan derajat Orang-orang yang berilmu dan beramal shalih beberapa derajat”. Dan sebagaimana sabda Nabi saw.” Keutamaan orang yang berilmu terhadap orang yang bodoh seperti keutamaan bulan terhadap bintang-bintang di langit”. Para Ulama shaleh mengatakan:” Tidaklah seseorang itu dilahirkan dalam keadaan berilmu # Tidaklah orang yang berilmu itu seperti orang bodoh”.
Saudara-saudaraku yang berbahagia.
Kita mesti menggunakan waktu-waktu kita dengan memperbanyak  belajar dan sedikit bermain. Karena belajar di waktu kecil itu akan memudahkan seseorang dalam menerima ilmu dan kuat hafalan. Seorang penyair berkata:”belajar di waktu kecil bagaikan mengukir diatas batu, sedangkan belajar di waktu dewasa bagaikan mengukir diatas air”.
Saudara-saudaraku yang berbahagia.
Akan tetapi kita perlu ingat bahwa ilmu tanpa amal itu tidak bermanfaat. Sebagaimana sabda Nabi saw.”ilmu tanpa amal itu bagaikan pohon tak berbuah”. Oleh karena itu mari kita mengamalkan ilmu yang kita tahu dan mulai dari diri kita sendiri. Dan sesuatu paling penting yang tidak boleh kita lupakan mari kita berbuat baik kepada kedua orang kita dan menghormati guru-guru kita karena hal tersebut merupakan kunci kesuksesan di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah;” apabila dikatakan kepadamu lapangkanlah tempat dudukmu di suatu majlis niscaya Allah akan melapangkanmu, dan apabila dikatakan kepadamu berdirilah kemudian mereka berdiri….”
Saudara-saudaraku yang berbahagia.
Apabila ada kesalahan dari apa yang saya sampaikan itu semua datangnya dari kebodohan saya, dan apabila ada benarnya maka itu semata-mata datang dari Allah. Terakhir, mari kita tutup pidato ini dengan doa:“ Ya Allah jadikanlah apa yang kami kerjakan itu menjadi amal shaleh, dan semata-mata karena mengharapkan ridho-Nya dan bukan karena sesuatu apapun”.